MENDAMBA CINTA MANUSIA AGUNG

8.3.09

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu
Kutahu cintamu kepada umat
Umati...umati
kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu
Sahabat bukan...tabi’in pun bukan. Aku hanya insan yang tidak bernama di tengah jutaan umatmu. Zamanku amat jauh ke depan dari zamanmu. Jaraknya lebih seribu empat ratus tahun. Zaman ini engkau sebut sebagai ’akhir zaman’ dengan pelbagai petanda yang telah engkau gambarkan.

Duhai kekasih Allah...aku hanya sepusar buih dari lautan umatmu di akhir zaman. Kalau engkau sebutir mutiara bergemelapan, aku hanya sebutir pasir di celah selut hitam. Namun, betapa aku ingin dekati mutiara nun di kejauhan. Betapa aku ingin terbang untuk hampiri cahaya gemilang itu. Betapa aku ingin membersihkan diri dan keluar dari selut hitam untuk berkumpul dengan butiran-butiran putih jernih yang mengelilingi mutiara gemilang.

Duhai Nabi ALLAH.. Sepatutnya aku bangga menjadi umatmu. Seharusnya aku megah sebagai umat akhir zaman. Patutnya aku syukuri sebesar-besar nikmat yang ALLAH kurniakan ini. Nikmat apakah lagi yang lebih besar dari nikmat iman dan Islam lantaran terpilih sebagai umat seorang nabi penutup.

Oh Nabi... Jauh di sudut hati, aku berasa malu. Kuhadapkan wajahku ke cermin diri, lalu kulihat wajah-wajah hitam dan kusam. Wajah yang hanya membayangkan raut gelap dari pancaran cermin hati yang penuh dengan titik noda dan palitan dosa. Beginikah wajah umat Rasul pilihan?

Akukah mereka yang engkau rintihkan? Umatku...umatku...umatku... Menjelang sakaratmu? Akukah itu yang engkau bimbangkan tahap imanya sebagaimana sabdamu mengenai mereka yang paginya beriman, petangnya kufur? Akukah yang engkau sebut-sebut dari kalangan umatmu yang hatinya disaluti nifak? Akukah yang ALLAH firmankan sebagai golongan kemudian yang sedikit sahaja dari kalangannya yang bakal menghuni syurga idaman, manakala kebanyakannya calon warga neraka yang menggerunkan.

Oh Nabi... Berpeluangkah aku bertemu denganmu? Layakkah aku berada di majlismu? Dapatkah aku menatap wajah gemilangmu? Menyentuh tangan muliamu? Manghidu harum bau tubuhmu? Paling tidak, menerima pandangan kasihmu? Mungkinkah wajahmu dapat kutatap dalam mimipi indahku? Mungkinkah cahaya gemilang mutiara itu hanya dapat kudekati dalam tidurku?

Oh Nabi...engkau terlalu dekat, tetapi juga terlalu jauh. Engkau terlalu hampir. Tetapi, tidak juga dapat kuhampiri.

Oh Nabi.. andainya ada di kalangan umatmu yang terpaksa engkau hulurkan tangan muliamu untuk kau selamatkan dari api neraka, kuharapkan akulah orang itu. Akulah manusia yang tidak tahu malu itu, mengaku umatmu sedangkan jalan hidupmu tidak sepenuhnya aku selusuri. Sirahmu tidak aku hayati. Peribadi muliamu tidak mampu kusalin sebagai pakaian peribadiku.

Wahai Nabi ALLAH... tunggulah aku. Aku sering jatuh dalam perjalanan menyelusuri langkahmu. Namun aku akan berusaha untuk bangkit kembali. Dalam gelap ku tetap suluhi langkahmu. Tunggulah aku kerana aku ingin bersamamu. Tunggulah aku kerana aku ingin bersamamu. Tunggulah aku...kerana aku ini umatmu...
(MAJALAH ANIS:MEI2002)

0 KOMENAN: